Segala Yang Salah Dari Kota Medan

Sebelum memulai, perlu diingat bahwa tulisan ini murni hasil observasi dan buah pikiranku sendiri. Jika ada kesalahan saya mohon maaf terlebih dahulu. Ruang berdiskusi terbuka lebar agar kita bisa belajar bersama. Jadi, tulisan bukan sebuah hasil riset/fakta. Selamat membaca dan terima kasih.

Artikel ini ditulis dan dikurasi oleh Candra (a.k.a Candut), seorang putra daerah asli yang lahir di indonesia sejak tahun 1987 dan lama menetap di Sumatera Utrara, Mengamati metamorfosis kota ini selama hampir empat dekade dari era angkot klasik hingga dinamika modernisasi jalanannya Candut membawa perspektif yang jujur, jenaka, sekaligus mendalam tentang realitas tanah kelahirannya.

Fenomena sebutan “Gotham City” untuk Kota Medan bukan lagi hal baru di jagat media sosial. Jika New York punya Batman untuk menjaga kota fiktif tersebut, Medan punya realitasnya sendiri yang unik, keras, namun selalu menarik untuk dibahas dari sudut pandang orang lokal.

Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa ibu kota Sumatra Utara ini sering kali dijuluki sebagai Gotham City-nya Indonesia:

Tingkat Kejahatan Jalanan (Street Crime) yang Tinggi

Di dunia nyata, alasan paling utama kenapa netizen Indonesia (dan bahkan beberapa perhatian luar) menyebut Medan sebagai Gotham adalah karena maraknya aksi begal, tawuran, dan premanisme.

Di Medan, video amatir tentang aksi begal bersenjata tajam atau bentrokan antar-organisasi kepemudaan (OKP) sangat sering viral di media sosial. Atmosfer “lu harus waspada setiap saat di jalanan malam” inilah yang membuat orang luar Medan langsung teringat pada ngerinya kota Gotham. Di komik, Gotham City adalah kota yang dikuasai mafia dan kriminal jalanan di mana polisi sering kali kewalahan.

Fenomena “Maling Otodidak” & Kehilangan Fasilitas Publik

Ini salah satu alasan yang paling sering jadi bahan meme nasional. Di Medan, ada kelakar bahwa “benda apa pun yang mengandung besi atau kabel, kalau ditinggal semenit pasti hilang.” Mulai dari pagar rumah, penutup parit, kabel lampu jalan, besi jembatan, sampai fasilitas umum lainnya sering kali dipreteli oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk dijual kiloan. Tingkat nekat dan “kreativitas” pelaku kriminal semenjana ini membuat Medan terasa seperti kota distopia yang tidak punya hukum formal, mirip dengan kacaunya faksi-faksi kecil di Gotham.

Kultur Premanisme yang Terorganisir

Kalau di Gotham ada pelbagai geng (anak buah Penguin, Joker, dll.), di Medan ada dinamika Organisasi Kepemudaan (OKP) yang sangat kuat dan mengakar hingga ke level akar rumput. Eksistensi premanisme atau “pos-pos” tertentu yang menguasai lahan parkir, proyek bangunan, hingga perizinan informal di jalanan adalah realitas sehari-hari. Bagi orang dari luar daerah atau luar negeri yang datang ke Medan, dominasi kultural ini sering kali terasa intimidatif sekaligus mencengangkan.

Karakter “Savage” dan Hukum Jalanan

Masyarakat Medan, termasuk saya yang lahir di sini tahun 1987, tahu betul kalau kota ini punya “hukum jalanannya” sendiri. Karakter warganya keras, bicaranya ngegas, dan kalau ada kriminal yang tertangkap basah oleh massa, “pengadilan jalanan” bisa terjadi dalam hitungan detik sebelum polisi datang. Keberanian warga lokal untuk melawan balik kriminal—atau sebaliknya, kerasnya mental para pelaku kejahatan—membuat kota ini punya energi yang sangat intens. Tidak ada ruang untuk orang yang lembek di sini.

Sudut Pandang Candut: Jadi, kenapa dibilang Gotham? Karena Medan itu raw (apa adanya), keras, dan punya dinamika sosial yang tidak bisa dinalar dengan logika kota-kota tenang lainnya. Disebut Gotham bukan karena kita benci kota ini, tapi justru karena ini adalah bentuk satire lokal: sebuah pengakuan bahwa hidup di Medan itu butuh mental survivor setingkat Batman.

Gimana, poin-poin dunia nyata ini udah pas rasanya dengan apa yang abang rasakan selama ini di Medan?

Share this post!
Leave a Replay

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RECENT POSTS

CATEGORIES

Related Post